Senin, November 10, 2008

The Salty Coffee

The Salty Coffee

Laki-laki itu datang ke sebuah pesta. Meskipun penampilannya tidak jauh berbeda dengan penampilan laki-laki lain yang datang, namun kelihatannya tidak seorangpun yang tertarik padanya. Ia lalu memperhatikan seorang gadis yang dari tadi dikelilingi banyak orang. Di akhir pesta itu, ia memberanikan diri mengundang gadis itu untuk menemaninya minum kopi. Karena kelihatannya laki-laki itu menunjukkan sikap yang sopan, gadis itupun memenuhi undangannya. Mereka berdua kini duduk di sebuah warung kopi. Begitu gugupnya laki-laki itu hingga ia tidak tahu bagaimaan harus memulai sebuah percakapan.


Tiba-tiba ia berkata kepada pelayan, "Dapatkah engkau memberiku sedikit garam untuk kopiku?"


Setiap orang yang ada di sekitar mereka memandang lelaki itu keheranan. Wajahnya memerah seketika, tetapi ia tetap memasukkan garam itu ke dalam kopinya lalu kemudian meminumnya. Penuh rasa ingin tahu, gadis yang duduk di depannya bertanya, "Bagaimana kau bisa mempunyai hobi yang aneh ini?"


Laki-laki itupun menjawab, "Ketika aku masih kecil, aku hidup di dekat laut, aku suka bermain-main di laut. Jadi aku tahu rasanya air laut, asin seperti rasa kopi asin ini. Sekarang, setiap kali aku meminum kopi asin ini, aku terkenang akan masa kecilku, tentang kampung halamanku, aku sangat merindukan kampung halamanku, aku merindukan orang tuaku yang tetap hidup di sana." Ia mengatakan itu sambil berurai air mata, kelihatannya ia sangat tersentuh.


Gadis itu berpikir, "Apa yang diceritakan oleh laki-laki tersebut adalah ungkapan isi hatinya yang terdalam. Orang yang mau menceritakan tentang kerinduannya akan rumahnya adalah orang yang setia, peduli dengan rumah dan bertanggung jawab terhadap seisi rumahnya". Maka gadis itupun mulai bercerita tentang kampung halamannya yang jauh, masa kecilnya dan keluarganya.


Merekapun berpacaran. Gadis iu menemukan semua yang dia inginkan di dalam diri laki-laki tersebut. Laki-laki itu begitu toleransi, baik hati, hangat dan penuh perhatian. Ia adalah laki-laki yang sangat baik, sehingga ia selalu merindukannya. Singkat cerita, merekapun menikah dan hidup bahagia. Setiap kali, ia selalu membuatkan kopi asin bagi suaminya karena ia tahu suaminya sangat menyukai kopi asin.


Sesudah empat puluh tahun menikah, meninggallah suaminya. Ia meninggalkan surat kepada istrinya,


"Sayangku, maafkan aku, maafkan kebohonganku selama aku hidup. Inilah satu-satunya kebohonganku padamu, yaitu tentang "kopi asin". Ingatkah engkau pertama kali kita bertemu dan berpacaran? Saat itu aku begitu gugup untuk memulai percakapan kita.. Karena kegugupanku, aku akhirnya meminta garam padahal yang aku maksudkan adalah gula. Selama hidupku banyak kali aku mencoba untuk mengatakan kepadamu hal yang sebenarnya, sebagaimana aku telah berjanji bahwa aku tidak akan pernah berbohong kepadamu untuk apapun juga. Tetapi aku tidak sanggup mengatakannya. Kini aku sudah mati, aku tidak takut lagi, maka aku memutuskan untuk mengatakan kebenaran ini kepadamu bahwa aku tidak suka kopi asin. Rasanya aneh dan tidak enak. Selama hidupku aku baru meminum kopi asin sejak aku mengenalmu. Meski begitu, aku tidak pernah menyesal untuk apapun yang aku lakukan untukmu. Memiliki engkau merupakan kebahagiaan terbesar yang pernah aku miliki selama hidupku. Jika aku dapat hidup untuk kedua kalinya, aku tetap ingin mengenalmu dan memilikimu selamanya, meskipun aku harus meminum kopi asin lagi".


Air mata wanita itu membasahi surat yang dibacanya. Suatu hari seseorang bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya kopi asin itu?" "Sangat enak", jawabnya.


====================================================================


Kita selalu berpikir bahwa kita sudah mengenal pasangan kita lebih dari orang lain mengenal mereka. Tetapi mungkin saja ada hal-hal tertentu yang tidak kita ketahui di mana pasangan kita telah rela meminum "kopi asin" (salty coffee) dengan membuang ego, kesombongan, kesenangan dan hobinya untuk menjaga keharmonisan hubungan kita dengannya. Ya, begitulah caranya mengasihi dan mencintai. Bukan menuntut, tetapi berkorban.


Membuang kebencian dan mengasihi lebih lagi, menyebabkan rasa garam lebih enak daripada rasa gula.

Sumber : tidak diketahui

Selasa, November 04, 2008

Sedikit Demi Sedikit Lama-lama Jadi Bukit

Sedikit Demi Sedikit Lama-lama Jadi Bukit

Peribahasa ini sederhana saja, "sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit". Kita biasa memaknainya, bahwa bila kita mengumpulkan seribu demi seribu rupiah, pada saatnya nanti kita akan mendapatkan sejuta rupiah. Namun sesungguhnya peribahasa ini tak sekadar bicara tentang hidup hemat, atau ketekunan menabung.

Peribahasa ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekadar sejumlah uang, yaitu jika kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan dapati kebesaran dalam jiwa kita.

Bagaimanakah tindakan-tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang permiliknya ? Yaitu, bila disertai dengan secercah kasih sayang didalamnya. Ucapan terima kasih, sesunggingan senyum, sapaan ramah, atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang mungkin sepele saja. Namun dalam liputan kasih sayang, ia jauh lebih tinggi daripada bukit tabungan anda.

Sumber : buku digitalnya Andi Muzaki.

Terimakasih,

Source :
Doni Afrizal
dari Doni_Afrizal@tecsg.com.sg


keMilis The Profec
tanggal27 November 2007 11:27

MENGUKUR RESPONS DAN EFEKTIVITAS IKLAN

MENGUKUR RESPONS DAN EFEKTIVITAS IKLAN
BELAJAR DARI EXTRA JOSS
Gencar-gencarnya piala dunia beberapa waktu yang lalu memunculkan banyaknya pertanyaan ke Saya tentang efektivitas iklannya Extra Joss menggunakan bintang sepakbola Italia Del Piero dari berbagai pertanyaan itu kira-kira rangkumannya adalah apakah layak antara hasil yang diperoleh dengan total biaya yang dikeluarkan oleh Extra Joss yang menurut kabarnya lebih dari 30 milyar ?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, pada tulisan yang lalu saya pernah membicarakan tentang Advertising Response Model, yakni sebuah model yang menjelaskan tentang pengaruh iklan terhadap minat beli yang sebelumnya melalui proses Response terhadap merek (yang diiklankan). Dan response terhadap iklannya sendiri. Dalam Admap bulan September 1999, Giep Franzen, seorang professor dari University of Amsterdam menyebutkan kedua hal tersebut sebagai Mental Advertising dan Mental Brand Response. Selain kedua respon tersebut Franzen menambahkan dua hal lagi, yaitu Brand Behavior Response dan Market Responses.

Mental Advertising Responses
sendiri terdiri dari dua hal yakni respon emosional dan sikap terhadap iklan. Aspek emosional iklan ini bisa diukur dengan tiga hal yakni aktivasi, impresi dan ekspresi. Sedangkan pengukuran attitude selain dari ad–awareness juga dengan sikap terhadap pesan yang dibawa iklan, pesan terhadap visualisasi, dan keterlibatan konsumen pada iklan sendiri. Involvement disini berbicara tentang relevansi iklan tersebut pada kehidupan target audiensnya.

Response
terhadap merek yang diiklankan selain dipengaruhi oleh exposure iklannya sendiri, juga dipengaruhi oleh pengalaman konsumen dengan merek tersebut (dari mengkonsumsi, melihat informasinya, dan lain – lain).

Dua ukuran digunakan disini yakni pengaruh iklan terhadap knowledge (cognitive) konsumen dan yang kedua pengaruh iklan pada attitude (affective) konsumen.
Beberapa elemen pengukuran yang cukup penting disini adalah brand awareness, brand meaning, brand feeling, brand position, brand attitude, brand relationship, dan brand behavioral tendensi.

Yang ketiga adalah brand behavioral response, yakni pengaruh iklan terhadap perilaku konsumen terhadap merek yang diiklankan. Ini yang sering merancukan pemilik merek yang sedang memasang iklan. Karena dampak ketiga ini yang diinginkan, tetapi tidak tahu jalan apa yang harus ditempuh dan juga tidak memiliki cara untuk mengukur effektivitasnya. Dorongan iklan pada perilaku konsumen ini sangat variatif mulai dari mendorong konsumen untuk mencari produk yang dimaksud sampai dengan mendorong orang yang sebelumnya tidak loyal menjadi loyal.

Ukuran yang keempat adalah response pasar, dan ini merupakan ukuran agregat dari dampak iklan terhadap merek.

Pengukuran dilakukan dengan mengetahui perubahan yang terjadi pada penetrasi produk, distribusi, penjualan, pangsa pasar, brand equity, harga dan tentu saja profit. Ukuran ini jelas tidak bisa dilakukan oleh sebuah riset external saja, melainkan juga digabung dengan data – data internal perusahaan.

Dimensi penting yang perlu di perhatikan keempat ukuran diatas adalah dimensi waktu yakni dampak langsung, dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang.

Misalnya saja response iklan terhadap perilaku konsumen, tentu tidak dapat diukur dalam jangka pendek tentang dorongan menjadi konsumen yang loyal karena proses pembelian berulang harus dilalui terlebih dahulu baru kemudian sampai ke loyalitas.

Kembali kepada iklan extra joss di depan, seberapa besar sebenarnya dampak iklan ini? Layakkah extra joss mengeluarkan biaya yang sebegitu besar dibandingkan dengan hasil yang diperolehnya ? untuk menjawab pertanyaan ini sebenarnya tidak cukup informasiny apabila diperoleh dari riset external saja, apalagi hanya dengan pengamatan sekilas (seberapa banyak pun teori yang di kuasai dan pengalaman yang di miliki) dampak iklan ini terhadap misalnya penjualan tentu harus didukung oleh data – data internal di perusahaan bersangkutan. Akan tetapi sebuah clue bisa diambil yakni riset yang dilakukan oleh MARS pada awal tahun ini yang meneliti tentang performance merek – merek beberapa produk di Indonesia. Extra Joss yang menjual isinya dan bukan botolnya memunculkan kategori baru minuman energi, yang selama ini dipersepsikan sebagai minuman cair. Tetapi dengan munculnya kategori ini ternyata merek ini tidak hanya dikategorikan sebagai minuman energi saja, tetapi justru menyebrang juga ke minuman serbuk (non energi), dan bersaing dengan Nutrisari dan lain – lain. Artinya adalah bahwaI iklan Extra Joss yang sangat gencar di televisi yang semula fokus ke minuman energi tetapi kemudian tidak mengesankan minuman energi justru membesarkan pangsa pasarnya. Ini berarti bahwa ukuran keempat diatas bisa dianggap positif.

Ukuran pertama tentang response terhadap iklannya sendiri sebenarnya oleh Extra Joss ditumpukan kepada Del Piero. Image positif terhadap bintang bola Itali (walaupun dalam piala dunia kali ini kalah melawan Korea Selatan). Ini diharapkan mendorong sikap positif pula terhadap Extra Joss apalagi eksekusinya tidak menarik. Dari sisi ini kemungkinan besar iklan ini berhasil.

Ukuran kedua agak mudah diprediksi dengan sedemikian heavy exposure extra joss di acara – acara piala dunia. Jelas exposure iklan ini ditangkap oleh target audiencenya karena begitu ada jeda pertandingan langsung Dik Doank muncul bersama Del Piero.

Sementara itu ukuran yang ketiga, yakni brand behavioral response agak sulit untuk dijawab karena untuk itu dibutuhkan sebuah riset yang agak comprehensif. Apakah iklan ini mampu mendorong orang yang tadinya tidak terlalu aware terhadap produk ini kemudian mencari produk dan mencobanya, atau orang yang tadinya memang sudah beberapa kali mengkonsumsi merek ini kemudian mampu terdorong untuk menjadi loyal ? dan beberapa ukuran lain yang perlu di lihat.

Dari keempat ukuran diatas sebenarnya peta pengukuran effectivitas iklan menjadi jelas dan pameo bahwa 50% iklan tidak ada dampaknya serta 50% yang lain lagi tidak bisa diukur dampaknya menjadi tidak berlaku lagi. Hanya masalahnya adalah bahwa pengukuran efektivitas iklan ini di beberapa point pengukuran tidak bisa hanya bisa sekali melainkan ada sebelum iklan (pre-advertising) dan setelah iklan (post advertising). Ukuran brand awareness misalnya tidak bisa di ukur sekali saja setelah iklan tersebut diluncurkan karena misalnya diraih awareness 70 %, jelas tidak akan berbunyi karena sebelum iklan tersebut ditayangkan harus diketahui dulu tingkat awarenessnya. Beberapa ukuran lain memang bisa dilakukan sekali saja, misalnya advertising awareness, advertising recall, sikap terhadap iklan, dan beberapa hal yang lain. Lagi – lagi kuncinya tidak lain adalah riset yang teratur akan memudahkan perusahaan untuk mengukur performancenya.
Source :
REFRINAL, S.KH., MM
Managing Partner
Logic Management & Consultant
Strategic, Marketing, Management & Research
Bogor - Jawa Barat




eva joseva <evajoseva@yahoo.com>
wrote: Dear Pak Refrinal & Forum,
Narasinya sangat bagus.

Saya punya satu contoh kasus.
Sebuah perusahaan bergerak di bidang jasa, beriklan di media lokal.
Katakanlah iklan di koran dan radio setempat.
Setelah beriklan, dan dianalisis, ternyata efektifitas iklan tersebut sangat kurang memuaskan.

Hasil yang dapat disimpulkan adalah bahwasanya masyarakat di daerah tersebut bukanlah mereka yang mudah dipengaruhi oleh iklan.
Mereka sebatas mengetahui bahwa ada suatu produk/jasa yang ditawarkan, tapi mereka tidak berminat untuk mencoba, membeli atau menggunakan produk/jasa yang ditawarkan tersebut.

Dalam hal ini, perusahaan tidak dapat berbuat lebih.
Untuk beriklan ke media nasional (TV maupun media cetak) pasti membutuhkan extra dana.
Iklan dalam hal ini hanya sebatas untuk meningkatkan brand awareness saja.
Hanya sebatas masyarakat mengenal produk/jasa nya saja, tanpa keinginan menggunakannya.

Perlu diingat bahwasanya perusahaan berdiri di suatu tempat atas suatu pertimbangan tertentu. Salah satunya adalah karena di lokasi tersebut produk / jasa mereka memang dibutuhkan (baik konsumen dalam kota atau pendatang).

Pertanyaannya adalah, apakah beriklan di media lokal (BUKAN MEDIA NASIONAL) tetap diperlukan? Kalau hanya untuk meningkatkan awaraness di konsumen, kenapa mesti? Toh tanpa iklan di media lokal perusahaan juga sudah cukup dikenal masyarakat????



Dear Eva dan Rekan-Rekan milist,
Saya sangat tertarik membaca kasus yang anda contohkan, dan kasus ini sebenarnya sebuah kasus yang sangat umum dan sangat sering terjadi, terutama pada sebuah perusahaan yang sedang konsentrasi membangun ekuitas merek dengan Market development strategy atau product development strategy, atau melakukan keduanya sekaligus. Implementasi strategi ini diputuskan biasanya berdasarkan analisis yang mendalam dengan melakukan audit terhadap strategi-strategi yang telah dilakukan sebelumnya sehingga menghasilkan sebuah grand strategy yang jitu dan nyaris tanpa kesalahan.
Hal ini tentunya bisa dilakukan dengan membuat design/ methodologi yang komprehensif yang menghasilkan internal evaluation matrix index dan external evaluation matrix index, dimana kedua indeks ini bisa dipetakan menjadi sebuah protfolio produk dengan internal-external matrix, atau matriks-matriks lainnya seperti general electric (GE), boston consultating group (BCG), grand strategy matrix, SPACE matrix, dan beberapa tool lain yang bisa digunakan, untuk mengukur kinerja sebuah merek/ produk hingga saat ini dan membuat portfolio dimasa depan.
Penggunaan tool ini tentunya, bisa mengeliminir keyakinan (feeling) yang berlebihan para pengambil keputusan seperti manajer pemasaran, bahkan direktur pemasaran sekalipun, sehingga apapun yang akan dilakukan harus diukur secara spesifik dan detail sehingga kesalahan sekecil apapun bisa terbaca.
Penggunaan tool-tool dalam strategy yang sudah ada sangat memerlukan keahlian dan kecermatan yang cukup tinggi dan perlu dilakukan pengujian berkali-kali dengan tool yang berbeda sehingga strategi-strategi yang dihasilkan dapat dipertanggung jawabkan dan bisa dibuat implementasi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penggunaan tool-tool semacam ini juga bisa membantu perusahaan untuk mengidentifikasi brand competitor dalam skala nasional maupun skala daerah.
Uraian diatas mengisyaratkan bahwa kesalahan utama para manager/ direktur pemasaran adalah memberlakukan sebuah strategi secara umum, bahkan strategi-strategi yang mereka formulasikan bersifat terlalu umum, sehingga terjadi apa yang saya sebut sebagai inkonsistensi strategy, padahal semestinya harus disadari bahwa strategy itu memiliki sifat totem pro parte atau totem pars prototo dan hampir tidak mungkin kedua sifat tersebut sekaligus.
Kembali ke pertanyaan Ibu Eva, pada dasarnya tujuan pembuatan iklan adalah membangun komunikasi secara universal dengan konsumen ataupun bukan pelanggan. Dan pada dasarnya iklan itu tidak ditujukan untuk seluruh kalangan, melainkan segmen-segment yang sedang disasar menjadi target market sebuah produk, atau bahkan ada iklan yang dibuat hanya untuk membuat segment yang selama ini satisfied menjadi like the brand, bahkan membujuk mereka menjadi commited buyer. Jadi tidak selamanya iklan itu ditujukan untuk mesasar konsumen yang dikategorikan sebagai consumer competitor atau switcher. Jadi sangat tidak tepat rasanya jika pembuatan iklan diartikan secara sempit. Ingatlah, prestasi dalam pemasarana adalah peningkatan penjualan dengan pengelolaan yang maksimal terhadap pasar yang sudah ada, dan sangat bijak jika perluasan pasar itu dilakukan setelah perusahaan yakin betul bahwa pasar yang selama ini ada telah terkelola dengan baik.
Statistik yang diberlakukan dalam berbagai riset, jika sebuah perusahaan mampu mengelola 5% saja dari total populasi maka itu sudah baik, dan jika ternyata 5% populasi itu dikelola dengan baik menjadi satisfied, like the brand dan commited buyer, maka ini sungguh merupakan prestasin yang luar biasa. Apalagi jika pengelolaan itu dibarengi dengan membuat segmentasi yang jelas dan menciptakan sebuah positioning brand yang mewakili semua segment yang terkelola, maka dapat dipastikan bahwa segala inovasi yang dilakukan atas semua merek merupakan nilai tambah (value added) bagi pelanggan, bahkan inovasi yang dilakukan dapat menjadi solusi bagi konsumen.
Untuk itu, sangat tidak cerdas rasanya kalau sebuah merek membabi buta menjadikan semua populasi disebuah negara menjadi target market, sehingga strategy apapun yang dilakukan menjadi tidak fokus bahkan sia-sia, karena merek yang dipasarkan tidak punya identity bahkan tidak punya personality sama sekali. Sangat dimungkinkan bahwa penjualan-penjualan yang dihasilkan tidak akan bertahan lama, bahkan merek itu akan hilang dengan mudah jika ada subtitusi produk. Jadi iklan itu sebenarnya memang dibuat untuk menjadi pengingat bagi setiap konsumen pengguna sebuah merek, bahkan jika iklan sebuah merek mampu menjadikan sebuah merek itucbagian dari sebuah gaya hidup atau indentitas konsumen, maka sangat dimungkinkan peningkatan penjualan yang terjhadi karena pelanggan yang sama meningkatkan usage, dan perusahaan dapat membebankan biaya iklan kepada pelanggan, dengan menjadikan kompenen biaya iklan sebagai bagian dari variable harga.
Jadi jangan lihat iklan tersebut dari sisi biaya yang dikeluarkan, melainkan kajilah kontribusinya terhadap ekuitas sebuah merek. Sangat strategis rasanya sebelum iklan dilounching, baik melalui media cetak ataupun elektronik, diuji dengan aktivitas Forum Discussion Group (FGD) dengan mengundang beberapa orang yang mewakili setiap segment yang disasar oleh produk tersebut. Jika ternyata mereka mampu menangkap pesan iklan tersebut maka iklan tersebut sudah dapat ditayangkan, namun jika sebaliknya ternyata sebagian besar mereka mampu menangkap pesan secara berbeda, atau bahkan signifikan berbeda dengan yang sebenarnya, maka perlu dilakukan design ulang.
Tujuan jangka pendek pembuatan sebuah iklan adalah membangun brand awareness untuk segment baru atau new commers dengan cara menjadikan konsumen yang selama ini tergolong dalam kategori consumer competitor menjadi switcher. Sedangkan tujuan jangka menengahnya adalah untuk memantapkan brand association dan brand perceived quality dengan harapan menjadikan konsumen dalam kategori satisfied, habitual buyer dan like the brand, serta tujuan jangka panjang pembuatan sebuah iklan adalah mengubah semua afiliasi konsumen atas sebuah merek sedemikian rupa sehingga menjadi brand loyalty dengan menjadikan semua pelanggan/pengguna sebuah merek menjadi commited buyer yaitu mereferensikan produk tersebut kepada orang lain. Dan pengalaman membuktikan bahwa tidak ada iklan apapun yang lebih baik daripada referensi seorang yang puas menggunakan sebuah merek kepada para follower.
Untuk itu sudah tidak lagi penting untuk dibahas apakah iklan itu dimuat secara lokal ataupun nasional, karena itu sangat bergantung pada tingkat kebutuhan dan portfolio sebuah merek. Demikianpun bentuk iklan tersebut apakah dipasang di media cetak ataupun elektronik sangat bergantung pada portfolio merek yang didukung oleh riset pasar yang dilakukan secara berkala.
Namun sekali lagi, janganlah menjadikan brand awareness sebagai patokan untuk mengukur keberhasilan sebuah penjualan, karena memang awarenss itu hanya untuk mengenalkan sebuah merek pada sebuah segment. Bahkan awareness itu tidak berhubungan sama sekali dengan market share, karena banyak merek yang memiliki awareness tinggi namun secara share justru rendah. Atau sangat lumrah ditemukan bahwa merek itu secara awareness sangat excellent namun sangat sedikit pembelinya. Siapa yang tidak kenal Mercedes Benz, BMW, Electrolux dll, namun apakah semua orang membelinya?
Jadi jika brand image itu dimasukan sebagai sebuah model persamaan, dan jika varibel brand equitu itu terdiri dari Brand Awaress, Brand association, brand perceived quality dan Brand loyalty, maka konstribusi brand awareness bagi peningkatan penjualan sebuah merek tidak lebih dari 5%. Sangat kecil bukan? Jadi sangat cerdas jika semua industry yang sedang tumbuh untuk memikirkan ini...Ciptakan konsumen, lupakan penjualan!
Semoga uraian saya ini mampu menjawab pertanyaan Bu Eva dan juga rekan-rekan milist lainnya. Dan saya snagta yakin diantara anda semua banyak yang jauh lebih baik dan keakuratan pengalaman yang tinggi untuk membahasnya.
Lebih kurang saya mohon maaf.
REFRINAL, S.KH., MM
Praktisi dan Pengamat Pemasaran

MEMBANGUN INTEGRITAS

MEMBANGUN INTEGRITAS

Salah satu faktor utama yang membuat kita gagal meraih kesuksesan sejati adalah hancurnya Integritas. Padahal integritas inilah yang menjadi syarat utama dan pertama yang akan mengantarkan kita meraih kesuksesan sejati.

Nilai seseorang maupun masyarakat ditemtukan oleh integritasnya. Semakin tinggi integritas yang dimilikinya, akan semakin tinggi nilainya dihadapan Tuhan maupun manusia. Sebaliknya, semakin rendah integritas seseorang atau suatu bangsa semakin merosot pula nilainya dihadapan Tuhan maupun manusia. Nilai inilah yang dalam kehidupan sosial sering disebut sebagai martabat. Maka seberapa tinggi martabat kita tergantung seberapa tinggi tingkat integritas kita masing-masing. Karenanya, tidak ada cara lain untuk menjaga martabat kecuali dengan memelihara integritas.

Disisi lain, Integritas merupakan tuntutan fitrah, menjaga integritas berarti menjadikan hidup kita selaras dan sesuai dengan fitrah insaniah. Tidak ada kontradiksi antara pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Semuanya selaras dan sejalan. Buahnya, hidup akan terasa tenang dan tenteram, jauh dari rasa galau dan gelisah.

Integritas juga sesuai dengan hukum alam semesta. Tuhan menciptakan alam raya dengan benar. Tidak ada kekeliruan atau kesalahan sedikitpun. Lihatlah bagaimana matahari dan bulan beredar sesuai dengan orbitnya secara konsisten. Perhatikan bagaimana air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Udara begerak dari daerah yang padat ke area yang renggang. Semua berjalan sesuai dengan sunnah yang ditetapkanNya.

Maka berbuat benar dan bersikap jujur berarti memperoleh dukungan dari semua makhluk Tuhan. Karenanya orang yang punya integritas akan hidup dalam keselarasan dan harmoni dan jauh dari kontradiksi. Buahnya, hidup menjadi indah dan penuh kebahagiaan.

Dalam hidup keseharian, termasuk dalam dunia kerja dan bisnis, integritas merupakan faktor utama yang menetukan relasi antar manusia. Integritas akan melahirkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan adalah faktor utama dalam hidup, termasuk dalam dunia kerja dan bisnis. Tidak akan ada transaksi bisnis apapun tanpa adanya kepercayaan. MOU, kontrak kerja, faktur, kwitansi dan sejenisnya hanyalah sekedar perangkat administrasi belaka. Semua itu baru bermakna bila ada kepercayaan diantara pihak-pihak yang bertransaksi.

Berbisnis dan bekerja tanpa kejujuran dan integritas sama artinya dengan menggali kuburan sendiri. Mendapat untung sesaat, setelah itu mati. Cepat atau lambat, bisnis seperti itu pasti akan hancur. Karena itu, kejujuran dan integritas harus menjadi sifat dan karakter utama para profesional dan pebisnis, karena hanya dengan itu ia bisa meraih kepercayaan dari orang lain, yang pada gilirannya akan menghasilkan keuntungan dan manfaat dan akhirnya kesuksesan sejati akan menjadi miliknya.


Semoga bermanfaat.

Salam IHSAN,


Source :
Ridwan Fadil
REKSA LEADERSHIP CENTRE
081317212141

Selasa, Oktober 14, 2008

Tentang sebuah kata bernama etika

Tentang sebuah kata bernama etika

Pertama-tama, izinkan saya menyampaikan sebuah perumpamaan yang isinya begini...

Di sebuah rel kereta yang masih aktif, ada sekumpulan anak-anak yang bermain. Mereka bermain dengan gembira tanpa menyadari bahwa sesungguhnya mereka ada dalam bahaya. Di bagian lain, ada rel kereta yang tidak aktif. Dan disana hanya ada satu anak yang bermain. Dia dalam posisi aman, karena toh rel kereta itu udah tidak terpakai lagi.

Suatu ketika kereta datang dan melaju begitu kencang.

Ok... stop sejenak.

Bayangkan seandainya di saat itu Anda ada di posisi pemindah jalur kereta.

Dan Anda punya dua pilihan:
1.) Membelokkan kereta itu ke jalur tidak aktif
Pertimbangan: untuk menyelamatkan mayoritas anak-anak yang salah namun resikonya Anda mengorbankan satu anak yang tidak salah.
2.) Membiarkan kereta itu melaju apa adanya.
Pertimbangannya: anak yang benar tidak boleh dikorbankan hanya demi teman-temannya yang salah.

Dalam posisi semacam itu. Keputusan mana yang Anda ambil?

Pikirkan... dan renungkan.

Yup, ada sekelompok orang yang berdasar etika dan logikanya memilih nomer 1, alasan demi menyelamatkan banyak anak... meskipun mereka salah.

Ada pula orang yang memilih nomer 2... dengan pemikiran yang benar tetep mesti dijunjung tinggi... meskipun hanya sedikit.

Jadi, mana standar yang benar? Atau paling nda... yang lebih benar??
Pemilih (1) toh akan merasa benar karena menyelamatkan banyak orang.
Pemilih (2) juga akan merasa benar karena menyelamatkan orang yang benar.

bingung....

Semua memang sangat rancu... sebuah keputusan tidak bisa begitu saja dibilang benar atau salah.

Semua keputusan tentu ada baik dan ada buruknya. Dan Anda tidak akan pernah bisa men-judge yang satu ini pasti lebih baik daripada yang lain. Anda nda bisa berkata keputusan (1) lebih etis dari yang kedua... ataupun sebaliknya.

Yah... sebuah problema yang bernama... ETIKA...

Dari perumpamaan sederhana di atas, ada satu hal yang ingin saya tekankan, yaitu...
Anda tidak bisa... dan tidak aka pernah bisa... menetapkan standar etika yang benar dan baku pada semua orang...

Sebagai implikasinya, Anda juga tidak akan pernah bisa... begitu saja menganggap/menuduh orang lain tak punya etika, atau melanggar apa yang disebut etika.

Karena toh memang setiap orang itu... punya standar yang BERBEDA...

Belajarlah menerima dan memahami pemikiran orang lain...
Belajarlah berpikir positif dan mencoba mengerti...

Berhentilah untuk menjudge... orang seperti ini pelanggar etika. Orang seperti ini etikanya parah.

Nah yang jadi pertanyaannya:
Etika yang mana??

Etika siapa??

Karena toh... Standar etika adalah rancu.

Apakah yang dipercayai orang banyak adalah yang benar??
Apakah yang dipercayai oleh penguasa adalah yang benar??

Belum tentu...

Jika diukur melalui sebuah standar, Anda mungkin saja benar dan Anda toh melakukan sebuah tindakan yang wajar.

Jika diukur melalui standar yang beda, mungkin saja Anda dinilai sebagai pelanggar etika. Mungkin saja Anda adalah orang yang tidak tahu diri, tidak tahu tata krama...

Who knows?

Ok, saya coba berikan sebuah contoh... yang lebih realistis...

Satu orang mungkin beranggapan bahwa menunjukkan kesalahan orang secara blak-blakan di hadapan publik adalah sah dan etis. Kalau hal semacam itu nda etis, untuk apa jadinya ada hal2 seperti tajuk rencana atau surat pembaca??

Hal semacam ini umum diterapkan di negara2 liberal. Sistem di Singapura ini juga sedikit banyak bercampur hal2 ini. Blak2an untuk serang menyerang saat Annual General Meeting... saat kampanye pemilihan presiden... de el el.

Ada pula tipikal orang yang tidak mau terang2an... Gak mau ngomong langsung. Namun berbuat jelek di belakang... ngomongin jelek di belakang. Ini didasarkan pada pertimbangan menjaga agar orang tidak sakit hati di depan umum. Sistem seperti ini umumnya diterapkan di negara2 timur.

So, mana yang melanggar etika?! Standar mana toh yang lebih benar?

Mana yang salah?

Orang pertama... karena tidak tahu diri mempermalukan orang di depan publik??
Atau orang kedua... karena tidak mau terus terang dan diam-diam saja... bukannya itu sama saja menikam dari belakang??

Jadi mana yang tidak sopan? Mana yang berpikir aneh?!

Orang tipe pertama akan berpikir orang kedua aneh dan kejam.
Orang tipe kedua akan berpikir orang pertama aneh dan kejam.

Kalau saja satu orang "keukeuh" pada pendiriannya, maka ia akan selamanya menganggap orang lain itu aneh dan tidak etis.

Jika satu orang juga berpegang pada satu standar etika... ia akan mudah terpancing emosi dan berkata pada orang yang berbeda pandangan dengan kata-kata...

"Anda rancu. Gak punya etika..."

Tentang sejauh mana... sebuah perkataan akan dianggap menyinggung?
Tentang sejauh mana... sebuah tindakan dianggap melanggar batas?
Seperti apa... sikap yang disebut tidak menyenangkan?

Sampai batas inikah? Atau itukah?

Sebenarnya siapa sih yang berhak memberi batas?!?

Saya mungkin berpikir bahwa tidak membalas SMS adalah hal yang tidak sopan.
Ada yang beranggapan... ach itu kan biasa.

Saya mungkin berpikir bahwa datang terlambat tanpa memberitahu adalah kurang ajar.
Ada yang beranggapan... itu biasa kok.

Saya mungkin beranggapan... orang masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu itu gak sopan
Ada mungkin yang beranggapan... ach, kita kan teman...

Saya mungkin bisa menerima, kalo orang secara blak2an kasih tahu kesalahanku, dengan cara2 tertentu
Ada mungkin yang beranggapan... iih kurang ajar deh, emang Anda sapa

Bagi setiap orang... apakah standarnya serupa??
Batasan setiap orang untuk sebuah hal adalah berbeda... dan selalu akan berbeda...

Dalam keadaan stabil dibanding keadaan emosi
Standar seseorang pun bisa berubah

Apalagi pada orang yang beda...

Yah jadi kembali kepada intinya...
Belajarlah untuk mengerti...
Belajar untuk menerima...
bahwa setiap orang berbeda...

Bahwa banyak hal-hal di dalam hidup ini. Antara yang etis ataupun yang bukan...

bukanlah untuk dipaksakan...
bukanlah untuk ditekankan

tapi untuk DITERIMA... apa adanya...

"Tetapi saya tetap yakin anda tetap memerlukan etika... karena etika adalah hal kecil yang akan membuat anda menjadi orang besar"



--
Resource :

erwinarianto@gmail.com
27 November 2007 09:19

Best Regard
Erwin Arianto,SE
Internal Auditor
PT.Sanyo Indonesia
Ejip Industrial Park Plot 1a Cikarang-Bekasi

INSPIRING WORDS

" Jika Dia menerapkan keadilan-Nya atas manusia, tentulah tidak akan ada suatu kebaikan pun tersisa bagi mereka. Jika Dia memberikan karunia-Nya kepada mereka, tentulah tidak ada suatu keburukan pun bagi mereka yang masih tersisa "

Resource :
reksaleadershipcentre@yahoo.com
27 November 2007 08:40
Salam IHSAN,
RLC

Senin, Agustus 25, 2008

Kisah Garam, Gelas & Telaga

~ ~ Kisah ini diangkat dari kisah nyata ~ ~

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dengan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya ", ujar Pak tua itu. "Pahit, Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya, berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya . Keduanya berjalan berdampingan, akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?". "Segar", sahut tamunya "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. "Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dan perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan . Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu "
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat: "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menerima setiap kepahitan itu, berbagi dengan Ilahi Robbi dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan ".
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari ini. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya, membawa keresahan Jiwa.

Kisah ini dapat menjadi pelajaran pribadi untuk siapa saja, dari Tuhan segala awal dan akhir tempat kita mengadu.

Bagaimana kita memperlakukan orang lain, sama dengan kita kita diperlakukan orang lain

Bagaimana membuat Seseorang dapat dihargai dalam suatu pergaulan .. dimana dengan hanya berjalan tanpa berbuat apa apapun orang sudah memandang dan suka kepada anda...

menurut fikiran saya beberapa hal yang harus kita lakukan dalam diri untuk menambahkan, sikap kharisma anda dan mempunyai Banyak teman adalah...

1. ramah dan murah senyum

(Semua orang akan merasa senang bila kita tersenyum, tidak percaya coba deh)

2. Ihkhlas dan jujur
3. Merendah diri dan berbudi bahasa yang santun
4. Jangan sombong
5. Senang Membantu
6. Jangan Memanfaatkan Kebaikan Orang lain
7. Pandai Membawa diri... dan sifat "cair" atau mudah menyesuaikan diri dalam keadaan apapun
8. Menghargai dan Menghormati sesama tanpa memandang siapa lawan bicara kita
9. Tanamkan sifat kasih sayang dengan sesama
10.Percaya diri

Merubah sikap kita dengan mencoba seperti yang saya coba ungkap kan diaatas adalah untuk kepentiangan kita sendiri. Karena dalam kehidupan ini akan berlaku azas timbal balik.... jika kita ingin dihargai dan dihormati kita harus memulai menghormati orang lain dahulu...

ayo hargai diri kita.. jangan mengharap orang lain menghargai kita... sebelum kita menghargai diri kita sendiri dan menghargai orang lain... bila ada tulisan yang kurang berkenan ditunggu saran dan kritik ke erwinarianto@gmail.com

"Bagaimana kita memperlakuakan orang lain, sama dengan kita kita diperlakukan orang lain"

Dalam perenungan, ayo saling menghormati
Cimanggis, Depok 27 November 2007 8:45
Erwin Arianto
source :
Erwin Arianto
from Milis The Profec

ONE . . . . . PARAGRAPH . . . . . THAT . . . . . EXPLAINS . . . . . LIFE !

ONE PARAGRAPH THAT EXPLAINS LIFE !

Arthur Ashe, the legendary Wimbledon player was dying of AIDS which he got due to infected blood he received during a heart surgery in 1983.

From world over, he received letters from his fans, one of which conveyed:

Why does GOD have to select you for such a bad disease ?

To this Arthur Ashe replied: " The world over - - - - - 50 million children start playing tennis, 5 million learn to play tennis, 500,000 learn professional tennis, 50,000 come to the circuit, 5000 reach the grand slam, 50 reach Wimbledon, 4 to semi final, 2 to the finals, when I was holding a cup I never asked GOD ' Why me ? '.

And today in pain I should not be asking GOD ' Why me ? '

" Happiness keeps you Sweet, Trials keep you Strong, Sorrow keeps you Human, Failure Keeps you humble and Success keeps you glowing, but only Faith & Attitude Keeps you going . . . . . . “

Have a NICE DAY . . . . . !


source :
jharry
from Milis The Profec



Selasa, Agustus 12, 2008

Dua Negro di Lift


There is nothing either good or bad position, but thinking makes it so.
(Tidak ada posisi yang baik atau buruk, pikirkanlah menciptakannya)
= William Shakespeare =

Baru-baru ini di Atlantic City - AS, seorang wanita memenangkan sekeranjang koin dari mesin judi. Kemudian ia bermaksud makan malam bersama suaminya. Namun, sebelum itu ia hendak menurunkan sekeranjang koin tersebut di kamarnya. Maka ia pun menuju lift.

Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah satunya sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana. Ia berpikir,"Dua orang ini akan merampokku." Tapi pikirnya lagi, "Jangan menuduh, mereka sepertinya baik dan ramah."

Tapi rasa rasialnya lebih besar sehingga ketakutan mulai menjalarinya. Ia berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia sangat ketakutan dan malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca pikirannya, tapi Tuhan, mereka harus tahu yang saya pikirkan!

Untuk menghindari kontak mata, ia berbalik menghadap pintu lift yang mulai tertutup. Sedetik . . . dua detik . . . dan seterusnya. Ketakutannya bertambah! Lift tidak bergerak! Ia makin panik! Ya Tuhan, saya terperangkap dan mereka akan merampok saya. Jantungnya berdebar,
keringat dingin mulai bercucuran.

Lalu, salah satu dari mereka berkata, "Hit the floor" (Tekan Lantainya). Saking paniknya, wanita itu tiarap di lantai lift dan membuat koin berhamburan dari keranjangnya. Dia berdoa, ambillah uang saya dan biarkanlah saya hidup.

Beberapa detik berlalu. Kemudian dia mendengar salah seorang berkata dengan sopan, "Bu, kalau Anda mau mengatakan lantai berapa yang Anda tuju, kami akan menekan tombolnya." Pria tersebut agak sulit untuk mengucapkan kata-katanya karena menahan diri untuk tertawa.

Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat kedua orang tersebut. Merekapun menolong wanita tersebut berdiri. "Tadi saya menyuruh teman saya untuk menekan tombol lift dan bukannya menyuruh Anda untuk tiarap di lantai lift," kata seorang yang bertubuh sedang.

Ia merapatkan bibirnya berusaha untuk tidak tertawa. Wanita itu berpikir, "Ya Tuhan, betapa malunya saya. Bagaimana saya harus meminta maaf kepada mereka karena saya menyangka mereka akan merampokku." Mereka bertiga mengumpulkan kembali koin-koin itu ke dalam keranjangnya.

Ketika lift tiba di lantai yang dituju wanita itu, mereka berniat untuk mengantar wanita itu ke kamarnya karena mereka khawatir wanita itu tidak kuat berjalan di sepanjang koridor. Sesampainya di depan pintu kamar, kedua pria itu mengucapkan selamat malam, dan wanita itu mendengar kedua pria itu tertawa sepuas-puasnya sepanjang jalan kembali ke lift.

Wanita itu kemudian berdandan dan menemui suaminya untuk makan malam.

Esok paginya bunga mawar dikirim ke kamar wanita itu, dan di setiap kuntum bunga mawar tersebut terdapat lipatan uang sepuluh dolar.

Pada kartunya tertulis: "Terima kasih atas tawa terbaik yang pernah kita lakukan selama ini."

Tertanda:
> Eddie Murphy
> Michael Jordan

(Eddie Murphy adalah bintang film Holywood, dan Michael Jordan adalah
bintang basket NBA)

* * * *

Sikap hidup kita sangatlah menentukan kehidupan kita. Sikap yang positif dalam menanggapi persoalan hidup akan sangat berpengaruh bagi kebahagiaan kita. Pikiran yang negatif akan membawa kita terperosok jatuh semakin dalam karena kita melihat segalaesuatu adalah
penderitaan.

Namun, pikiran yang positif membawa kita kepada hal-hal yang positif pula. Positif dalam menghadapi kehidupan yang serba ini, positif dalam sikap kita kepada sesama, positif merencanakan hari esok dan positif juga terhadap diri sendiri. Tuhan menciptakan kita luar biasa. Bersama Tuhan kita sanggup melakukan perkara-perkara besar.
Sumber: M. Rian - Milis Profec

Life for Success

Regards,

HENDRY RISJAWAN
Source :
Hendry Risjawan

Keterampilan Dasar Seorang Guru (6)

Keterampilan Mengelola Kelas

Keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang optimal guna terjadinya proses pembelajaran yang selalu serasi dan efektif.

Guru perlu menguasai keterampilan ini agar dapat:
a. mendorong peserta didik mengembangkan tanggung jawab dalam berperilaku yang sesuai dengan tata tertib serta aktivitas yang sedang berlangsung;
b. menyadari kebutuhan peserta didik;
c. memberi respon yang efektif terhadap perilaku peserta didik.

Komponen keterampilan mengelola kelas yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai berikut.

a. keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan belajar yang optimal yang dapat dilakukan dengan cara:
1) menunjukkan sikap tanggap,
2) membagi perhatian secara visual dan verbal,
3) memusatkan perhatian kelompok,
4) memberi petunjuk yang jelas,
5) menegur secara bijaksana (tegas dan jelas bukan berupa ocehan/peringatan) dan membuat aturan,
6) memberikan penguatan bila perlu.


b. keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap respon peserta didik yang berkelanjutan, seperti: adil, menandai dan menghentikan perilaku yang menyimpang, memberi penguatan.


Beberapa prinsip yang perlu diingat dalam menerapkan keterampilan mengelola kelas, yaitu:
a. kehangatan dan keantusiasan dalam melaksanakan pembelajaran dapat menciptakan iklim kelas yang menyenangkan,
b. penggunaan kata-kata atau tindakan yang dapat menantang peserta didik untuk berpikir,
c. penggunaan berbagai variasi yang dapat menghilangkan kebosanan,
d. keluwesan guru dalam melaksanakan pembelajaran perlu ditingkatkan,
e. penekanan pada hal-hal yang positif, penanaman disiplin diri sendiri


Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
Belajar, belajar dan belajar
Source :
Sri Tatminingsih
tatmipur@yahoo.co.id

Keterampilan Dasar Seorang Guru (5)

Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan tujuan berbagi pengalaman atau informasi, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah.

Ciri-ciri diskusi kelompok kecil, adalah:
a. melibatkan 3 – 9 peserta,
b. berlangsung dalam interaksi tatap muka yang informal (setiap anggota dapat berinteraksi langsung dengan anggota lainnya)
c. mempunyai tujuan yang dicapai dengan kerjasama antar anggota,
d. berlangsung menurut proses yang sitematis.

Penggunaan kelompok kecil dalam kegiatan pembelajaran memungkinkan peserta didik untuk:
a. berbagi informasi dan pengalaman dalam memecahkan masalah
b. meningkatkan pemahaman
c. meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan,
d. mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi,
e. membina kerja sama dan bertanggung jawab.

Komponen keterampilan yang perlu dimiliki oleh pemimpin diskusi kelompok kecil (guru) adalah:
a. memusatkan perhatian peserta didik,
b. memperjelas masalah atau urun pendapat,
c. menganalisis pandangan peserta didik,
d. meningkatkan partisipasi peserta didik,
e. menyebarkan kesempatan berpartisipasi,
f. menutup diskusi (merangkum hasil diskusi, tindak lanjut, mengajak peserta untuk menilai hasil diskusi)
(bersambung)
Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
Do The BESt
Source :
Sri Tatminingsih
tatmipur@yahoo.co.id

gadis cilik dan puzzle barunya.....

seorang gadis cilik menampakkan wajah yang sedang bingung, dia memegang potongan-potongan puzzle ditangan kanan kirinya, matanya melirik ke kanan kiri juga. Dia berusaha menggabungkan potongan2 itu, supaya dapat menjadi rangkaian gambar yang lebih enak dilihat dan lebih bermakna.Ketika dia berhasil menyusunnya, dia berteriak HORE AKU BERHASIL!!!!

Kemudian dia tunjukkan pada si mama sambil tersenyum bangga, ciuman sayang pun mendarat di pipi chubby nya. namun meski dia sudah berhasil menyusun, dan mendapat compliment dari mama tercintanya, dia tak lupa untuk tetap menyimpan rapi potongan2 itu dan akan memainkannya kembali suatu saat nanti.Dia berpikir kalo hilang satu saja, puzzle ini ga asyik lagi...jadi aku harus menyimpannya dengan baik. Puzzle "jadi" yang kelihatan lebih bermakna itu, berasal dari potongan2 gambar yang samar, ga jelas bentuk dan maknanya. disusun, tukar, cocokkan, tukar lagi, pasang lagi,...

hmmm...bisa jadi mengasyikkan bisa jadi melelahkan...
Tapi kalo puzzle itu sudah jadi alias mengandung gambar yang bermakna, kadang kita, orang dewasa lupa, bahkan menganggap potongan2 itu tak pernah ada.

hmm....Anak kecil aja tahu, bagaimana menghargai bagian2 yang kecil untuk membuat sesuatu yang besar....

bingung dengan tulisan ini...???

buka saja matamu, lebarkan daun telingamu, sentuhlah rasamu, kembangkan lobang hidungmu, julurkan lidahmu,lalu bercerminlah...kau akan tahu dan mengerti... setelah itu tak perlu kau katakan yang kau tahu pada siapapun, sebelum kau mau menyimpan dan menghargai potongan2 puzzle itu...

GOODLUCK!!! "bumi ini adalah tempat belajar"
Source :
ratu pantaiselatan
mako_poseidon@yahoo.com

Senin, Agustus 11, 2008

Maafkan Salahku, Ibu...

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.
Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu".

Saya pun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya"

Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil."
"Memang harganya berapa dok?" Tanya saya.
Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik."
"Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?"
Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil."

Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga puluh enam juta, Dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan."

"Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, Ppak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."
Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu."

Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"
"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan, pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."
Saya meninggalkan ruangan dokter itu.... dengan berbisik pada diri sendiri "Ibu, I miss you so much."

Dikutip dari Jamil Azzaini, Senior Trainer dan penulis buku Kubik Leadership: Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Have a positive day!

Salam Inspirasi,
Mohamad Yunus
Source :
Mohamad Yunus
HR & Training Manager
PT Widatra Bhakti
Moderator I2
www.inspirasiindonesia.com
"You create your own reality"

Perilaku Kita di Bumi
["Our attitude at earth"]


Tak ada yang lebih buruk dari perilaku kita yang mengenai/berakibat ke diri kita sendiri. Kita jatuh oleh kelakuan kita sendiri,kata seorang tokoh Indonesia, yang sedang 'jatuh'.
Luapan air laut semalam sampai tol kapuk, melumpuhkan lalu lintas dari & ke bandara.
Saya terjebak di tol pluit ketika akan ke bandara mengejar keberangkatan jam 19.50
ke denpasar, terpaksa batal berangkat.
Saya rugi, masyarakat rugi.
Kutub utara/selatan mencair akibat pemanasan global, air laut meningkat, sampai ke kapuk. Perubahan pemanfaatan lahan sekitar kapuk, makin banyak rumah dan sawah berkurang. Air tidak mudah mengalir
kembali ke laut. Akibatnya air menggenagi daratan lebih lama. Warga stress, emosi naik sebanding dengan naiknya suhu udara.
Warga Serpong memblokir jalan tikus ke bandara.
Ini lebih aneh lagi khan?
Tatanan berkehidupan sudah rusak.

Mari kita perbaiki perilaku kita di bumi, agar "global warming & global attitude"
dalam harmony dengan ALAM.

"Manusia harus hidup selaras dengan ALAM, jika tidak, kita akan mati karena alam."

--
Salam mulia, salam mulai
harry 'uncommon' purnama
Source :
harry 'uncommon' purnama
MOTIVATION TO CHANGE: 'WASH YOUR HAND'
021.715.87887; 0813.8286.3949
http://uncommon-leadership.blogspot.com/
NEW MILIS 'Motivation to Change'
washyourhand-subscribe@yahoogroups.com

Life and It's Expectations

Life is full of expectations and disappointments, hopes and despair. It is said life takes a new turn for men and a women after their wedding. The newlyweds feel the sun shines for them; the stars in the sky are for them to reach out and touch. The only thing amongst them is love and admiration for each other. Life seems to be like a bed of roses, then kids come along and responsibilities are increased, which the new parents shoulder more than readily. Over the course of time, somewhere along the line, love evaporates between the parents and is sought by their kids, who reciprocate it fully.
The lives of parents revolve around the their children; teaching them the ways of life, inculcating morals and values, and then one fine day they grow up to be a fine human. By this time, parents are on the threshold of their old age. They expect the children to serve and make them an important part of their life, which creates problems.

Why do parents feel the need to dictate terms? Bringing up kids is the most joyful experience. Is it so that we wish to be compensated for the time spent in bringing them up?

Once the child is an adult it has its own mind. Who are parents to interfere? The basic values that were inculcated in them as a child, by parents, help them in a long way. Why judge them? Let them explore life on their own. Don't decide for them; be a part of their decision and not the part of their discussion.

As Geeta says:
"Until age 5, the child is the whole sole responsibility of mother.From 5 to 10, values are inculcated. From 10 to 15, watch over them with an eagle eye. 15 onwards, let go of them. They shall prove to be a better human than what we think them to be ."

Have a positive day!

Salam Inspirasi,
Mohamad Yunus
Resource:
Mohamad Yunus
HR & Training Manager
PT Widatra Bhakti
Moderator I2
www.inspirasiindonesia.com
"You create your own reality"

Trust Your Subordinates
By: Brian Tracy

The Definition of Leadership
Leadership has been called "The ability to get followers." One of the deepest cravings of human nature is the need to feel important, to have a sense of meaning and purpose in life and work. Leaders are invariably those who can tap into the deeper emotions of others and get them to rise above and beyond anything they may have accomplished in the past.

Inspiring Words Lead to Victory
Winston Churchill was able to arouse and inspire an entire nation with words like these: "Let us so carry ourselves that if the British Empire should endure a thousand years, men will still say, this was their finest hour."

Spearhead A Turnaround
Lee Iacocca stepped into Chrysler Corporation when the company was almost bankrupt. Through the sheer force of his personality, his unshakable determination, his appeals to Congress, to Chrysler workers and to Chrysler customers on television, he spearheaded a turn-around that will go down in the history books as one of the greatest achievements in American business.Trust Other People
The key to getting followers in every case is to "trust your subordinates." Many studies have concluded that it is the mutual bond of trust and respect that acts as the catalyst that creates high performance. Not only must you trust your subordinates, but even more important, they must trust you.

Act With Integrity
In order to "get followers," your subordinates must have an absolute belief in your integrity. They must believe that you will abide by the highest ethical standards of fairness and justice. Integrity appears over and over as the most important leadership quality. People can only put their whole hearts into their work when they feel secure and they can only feel secure when they can relax and trust you completely.

Action Exercises
Here are two things you can do immediately to bring out the very best from the people who look up to you.

First, make people feel important. Tell them how important and valuable they are and then give them both the responsibility and the opportunity to do their job the very best they know how.

Second, set a good example. Be an inspirational leader by being a role model for everyone else to follow. The more people look up to you, the better they will do their work and the happier they will be.

Rabu, Agustus 06, 2008

Keterampilan Dasar Seorang Guru (4)


Keterampilan Dasar Seorang Guru
4. Keterampilan Menjelaskan
Menjelaskan merupakan aktivitas yang paling sering dilakukan oleh guru dalam menyampaikan informasi. Dalam kegiatan pembelajaran, menjelaskan berarti mengorganisasikan materi pembelajaran dalam tata urutan yang terencana secara sistematis sehingga dengan mudah dapat dipahami oleh peserta didik. Keterampilan menjelaskan mutlak perlu dimiliki oleh para guru.
Seorang guru harus dapat menjelaskan berbagai hal kepada peserta didiknya. Penjelasan yang disampaikan harus sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir peserta didik. Misalnya guru akan menjelaskan konsep ”atas”. Jika peserta didiknya adalah anak usia TK (4 – 5 tahun) maka dia harus menjelaskan konsep tersebut secara konkret dan nyata.
Cara yang dapat dilakukannya antara lain melalui lagu, gerakan atau contoh benda-benda yang berada di atas atau penggabungan dari cara-cara tersebut.
Contoh menjelaskan konsep ”atas” pada anak TK
Lagu: Atas itu atas
Bawah itu bawah
Atas atas bawah bawah saya tidak lupa
Kepala itu atas
Kaki itu bawah
Kepala atas
Kaki bawah saya tidak lupa
Lagu tersebut dinyanyikan sambil guru memberi contoh bergerak sesuai syair lagu dan dilakukan secara berulang-ulang.
Nah, jika cara tersebut diterapkan pada anak usia SMP atau SMA, maka peserta didik Anda, mungkin akan berkomentar: ”Emangnya gue anak kecil!” dan mungkin Anda akan dianggap sebagai guru yang ”aneh” dan tidak kompeten.
Untuk peserta didik yang sudah lebih besar (anak di atas usia dini), Anda bisa menjelaskan konsep tersebut dengan cara yang lebih abstrak. Misalnya dengan definisi ”ATAS” adalah....bla bla..bla...dan seterusnya. Hal ini dimungkinkan karena kemampuan berpikir (kognisi) anak yang sudah lebih besar sudah lebih tinggi dan mengarah ke kemampuan berpikir abstrak.
Jadi, keterampilan menjelaskan juga tidak sekedar asal menyampaikan informasi. Namun harus disesuaikan dengan audience yang kita hadapi.
Kegiatan menjelaskan bertujuan untuk:
a. membimbing peserta didik memahami konsep, hukum, prinsip atau prosedur;
b. membimbing peserta didik menjawab pertanyaan secara bernalar;
c. melibatkan peserta didik untuk berpikir;
d. mendapat balikan mengenai pemahaman peserta didik;
e. membantu peserta didik menghayati beberapa proses penalaran.
Dalam memberikan penjelasan guru perlu memahami prinsip-prinsip berikut ini.
a. Penjelasan dapat diberikan di awal, tengah ataupun akhir kegiatan belajar sesuai keperluan.
b. Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
c. Guru dapat memberi penjelasan dengan direncanakan sebelumnya atau bila ada pertanyaan dari peserta didik.
d. Materi yang dijelaskan harus bermakna.
e. Penjelasan harus sesuai dengan latar belakang dan kemampuan peserta didik.
Keterampilan menjelaskan terdiri dari berbagai komponen sebagai berikut.
a. Komponen merencanakan penjelasan yang mencakup:
1) isi pesan (tema) yang dipilih dan disusun secara sistematis disertai contoh-contoh,
2) penerima pesan harus dipertimbangkan karakteristiknya.
b. Komponen menyajikan penjelasan yang mencakup:
1) kejelasan, yang dapat dicapai dengan berbagai cara seperti: bahasa yang jelas, berbicara dengan lancar, mendefinisikan istilah-istilah teknis, berhenti sejenak untuk melihat respon peserta didik;
2) penggunaan contoh dan ilustrasi yang dapat mengikuti pola induktif atau pola deduktif;
3) pemberian tekanan pada bagian-bagian yang penting dengan cara: penekanan suara atau mengemukakan tujuan;
4) peserta didik diberi kesempatan untuk menunjukkan pemahaman ataupun keraguan ketika penjelasan berlangsung (balikan).
(Bersambung)
Tatmi
Guru dan Praktisi PendidikaN
"Do the BEsT"